Perbanyak Startup Unicorn di Indonesia Bersama Broker Asuransi - Informasi Pendidikan, Teknologi dan Travelling

Breaking

Post Top Ad

Wednesday, May 8, 2019

Perbanyak Startup Unicorn di Indonesia Bersama Broker Asuransi

ilustrasi startup unicorn, foto:tribunnews
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah  startup terbanyak di dunia. Startup adalah istilah yang diberikan untuk perusahaan rintisan berbasis teknologi.  Berdasarkan data website startup ranking per 21 Maret 2019, Indonesia memiliki startup  sebanyak 2.074 perusahaan. Angka tersebut mencatatkan Indonesia sebagai peringkat kelima negara dengan startup terbanyak dibawah Amerika Serikat (46.600 startup), India (6.200 startup), Inggris (4.900 startup), dan Kanada (2.500 startup).

Meskipun jumlah startup yang berasal dari Indonesia cukup banyak, sayangnya belum banyak startup yang berhasil mencapai status “unicorn”. Unicorn merupakan status yang didapat sebuah perusahaan startup ketika memiliki nilai valuasi sebesar 1 Milliar US Dollar.
Berdasarkan data yang dilansir oleh Katadata, hingga 18 Januari 2019, baru ada 4 perusahaan startup di Indonesia yang mencapai level unicorn. Keempatnya yakni Tokopedia dengan nilai valuasi sebesar 7 Milliar US Dollar, Go-Jek dengan valuasi 5 Milliar US Dollar, Traveloka sebesar 2 Milliar Dollar dan Bukalapak dengan valuasi sebesar 1 Milliar US Dollar. Hal ini tentu menjadi sinyal positif bagi para pegiat startup di Indonesia karena berpotensi untuk melahirkan Unicorn baru yang bisa menjadi perusahaan besar dunia

Potensi Besar dan Problematika Startup Unicorn
Besarnya potensi yang dimiliki startup Indonesia dibuktikan oleh masuknya 4 startup kedalam jajaran startup unicorn dunia. Meskipun demikian, ada permasalahan yang mengganjal ribuan startup asal Indonesia lainnya untuk mencapai nilai valuasi hingga 1 Milliar US Dollar. Masalah tersebut adalah permodalan.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dan Indonesia Digital Creative Industry Community (MIKTI), masalah permodalan masih menjadi masalah utama yang dialami oleh 38,82% startup di Indonesia. Persentase tersebut disusul oleh masalah Sumber Daya Manusia (SDM) sebesar 29,41%, Fasilitas 15%, Regulasi 8,82% dan Pasar sebesar 7,95%. Masalah ini bisa mengganjal potensi risiko ribuan startup di Indonesia untuk menyusul nilai valuasi 4 startup Indonesia yang telah mencapai level unicorn.

Risiko yang Dihadapi
Dibalik potensi besar yang dimiliki startup Indonesia, risiko besar juga menanti perusahaan-perusahaan berbasis digital tersebut. Salah satu risiko terbesar yang dihadapi adalah risiko cyber. Berdasarkan laporan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sebanyak 225,9 juta serangan cyber menyerang Indonesia dan 40% diantaranya adalah serangan malware. Kondisi ini perlu menjadi perhatian para pegiat startup di Indonesia mengingat serangan cyber bisa melumpuhkan bisnis yang dijalankannya.

Tindakan perlindungan yang efektif terhadap risiko cyber adalah memiliki polis Asuransi Cyber - dari yang memberikan manfaat perlindungan atas Cyber Business Interruption (Gangguan Bisnis Dunia Maya), Repair of Reputation (Perbaikan Reputasi), Cyber Extortion (Pemerasan Siber), Data Asset Restoration (Pemulihan Aset Data) hingga Data Liability (Tanggung Gugat Data) dan Defense Costs (Biaya-biaya Pembelaan).

Anda bisa memilih jenis Asuransi Cyber yang tepat dengan menggunakan bantuan perusahaan konsultan manajemen risiko dan broker asuransi, misalnya Marsh Indonesia. Tim di Marsh memiliki pengalaman dalam menilai dan melakukan analisa untuk meminimalisir risiko kerusakan dan kerugian perusahaan jika terkena serangan cyber dan penyusupan data, memberikan metode pencegahan dan penanggulangan, serta simulasi skenario terburuk. Jasa dan solusi yang dapat diberikan diantaranya adalah Cyber Insurance, Cyber Risk Modelling dan Cyber Risk Complication, dan Cyber Security Services. Sehingga, perusahaan Anda bisa lebih fokus untuk mencapai status unicorn tanpa perlu khawatir dengan risiko cyber yang ada.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad