Strategi pembentukan karakter di Sekolah - Informasi Pendidikan, Teknologi, dan Travelling

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

Sabtu, 26 Maret 2016

Strategi pembentukan karakter di Sekolah


Strategi pembentukan karakter di Sekolah - Strategi pendidikan
karakter dalam satuan pendidikan dikelompokkan menjadi empat pilar yaitu:
kegiatan belajar mengajar di kelas, kegiatan keseharian dalam bentuk budaya
satuan pendidikan dan kegiatan ekstrakulikuler dan kegiatan keseharian di
rumah.[1]



Pengembangan nilai
karakter perlu didukung oleh semua warga negara secara terintegrasi yang
melibatkan peserta didik, pendidik, tenaga pendidikan.[2]
Semua warga sekolah harus terlibat dalam pengembangan nilai karakter. Adapun
strategi pengembangan nilai-nilai pendidikan karakter yaitu sebagai berikut:


1.     
Kegiatan pembelajaran


Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran.
Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma dan nilai perlu dikembangkan,
dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan. Dengan demikian
pembelajaran nilai karakter tidak hanya pada ranah kongnitif, nemun menyentuh
pada internalisasi dan pengalaman nyata”.[3] Kegiatan pembelajaran dalam kerangka pengembangan
karakter peserta didik dapat menggunakan pendekatan belajar aktif seperti
pendekatan belajar kontekstual, pembelajaran kooperatif, dan sebagainya. Dalam kegiatan pembelajaran membaca Al-Qur’an
di sekolah, beberapa sekolah memasukkan mata pelajaran membaca Al-Qur’an
sebagai mata pelajaran wajib bahkan menjadi program unggulan, tetapi juga
banyak yang hanya sebagai budaya sekolah saja, kegiatan pembelajaran membaca
Al-Qur’an di sekolah telah banyak menggunakan metode Ummi sebagai metode
pembelajarannya, metode Ummi sendiri adalah metode belajar membaca Al-Qur’an
yang dikembangkan oleh Ummi Foundation, yang mengajarkannya sebagaimana ibu (Ummi) dalam mendidik anaknya.



2.     
Pengembangan Budaya
Sekolah/kegiatan keseharian di sekolah


Pendidikan karakter di
sekolah mengarah pada pembentukan kultur sekolah (proses pembudayaan), yaitu
nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, dan simbol-simbol yang
dipratekkan.[4] Adapun metode peengembangan nilai pendidikan karakter
dalam keseharian di sekolah sebagai berikut:


a)     
Kegiatan rutin


Kegiatan rutin yaitu kegiatan yang dilakukan peserta
didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat.[5]  Misalnya kegiatan upacara hari Senin, upacara
besar kenegaraan, pemeriksaan kebersihan badan, piket kelas, shalat berjamaah, membaca
Al-Qur’an setiap
pagi ataupun setiap hari jumat, berbaris ketika masuk
kelas, berdo’a sebelum pelajaran dimulai dan diakhiri, dan mengucapkan salam
apabila bertemu guru, tenaga pendidik, dan teman. baca juga pembentukan karakter gemar membaca Al-Qur'an di Indonesia


b)     
Kegiatan spontan


Kegiatan yang dilakukan peserta didik secara spontan pada
saat itu juga, misalnya, mengumpulkan sumbangan ketika ada teman yang terkena
musibah atau sumbangan untuk masyarakat ketika terjadi bencana. Kegiatan
spontan lainnya apabila guru mengetahui 
adanya perilaku dan sikap 
yang  kurang  baik 
maka pada saat itu juga guru 
harus melakukan koreksi sehingga peserta didik tidak akan melakukan
tindakan yang tidak baik itu. Contoh kegiatan itu: membuang sampah tidak pada
tempatnya, berteriak-teriak sehingga mengganggu pihak lain, berkelahi, memalak,
berlaku tidak sopan, mencuri, berpakaian tidak senonoh. Kegiatan spontan
berlaku untuk  perilaku dan sikap peserta
didik yang  tidak baik dan  yang baik sehingga perlu dipuji, misalnya:
memperoleh nilai tinggi, menolong orang lain, memperoleh prestasi dalam olah
raga atau kesenian, berani menasehati perilaku teman yang tidak terpuji,
berbagai jenis nasehat misalnya menasehati temannya ketika makan berdiri.




c)     
Keteladanan


Merupakan perilaku, 
sikap guru,  tenaga kependidikan
dan peserta didik dalam memberikan contoh melalui tindakan-tindakan yang baik
sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik lain. Misalnya nilai
disiplin (kehadiran guru yang lebih awal dibanding peserta didik),
kebersihan,  kerapihan, kasih sayang, cinta
damai, kesopanan, perhatian,
jujur, dan kerja keras dan percaya diri. 
“Guru
bagaikan jiwa bagi pendidikan karakter, sebab guru (mayoritas) menentukan
karakter murid. Indikasi adanya keteladanan dalam pendidikan karakter ialah
model peran pendidik bisa diteladani oleh murid. Apa yang murid pahami tentang
nilai-nilai itu memang bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka, namun ada
di dekat mereka yang mereka temui dalam perilaku pendidik”.[6]


Keteladanan guru adalah kunci utama dalam
membentuk karakter anak, khususnya dalam membaca Al-Qur’an, karena anak tidak
akan melakukan protes karena gurunya sudah memberikan teladan yang baik,
semisal membaca Al-Qur’an lebih dulu dari siswa maupun membaca Al-Qur’an di
waktu-waktu senggang dengan begitu anak didik akan mengikuti perilaku guru
mereka. baca juga dasar pembentukan karakter dalam islam


d)    
Pengkondisian


Pengkondisian ini harus diciptakan lingkungan sekolah
gyang nyaman, aman dan tertib.[7]
Pengkondisian yaitu penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan
karakter, misalnya  kebersihan  badan 
dan pakaian,  toilet yang bersih,
tempat sampah, halaman yang hijau dengan pepohonan, poster kata-kata bijak
di  sekolah dan di dalam kelas, berbagai
poster motivasi islami dalam Al-Qur’an, berbagai foto-foto dan sejarah dalam
Al-Qur’an.



3.     
Kegiatan ekstrakurikuler (pengembangan
diri)


Terlaksananya ekstrakurikuler  yang mendukung pendidikan karakter  memerlukan 
perangkat pedoman pelaksanaan, pengembangan kapasitas sumber daya
manusia, dan revitalisasi kegiatan yang sudah dilakukan sekolah, misalnya
kegiatan pramuka, kompangan, outbond dan sebagainya. “Aktivitas
ekstrakulikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu
media strategis untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu  akademik murid”.    





4.Kegiatan keseharian di
rumah dan di masyarakat


strategi pembentukan karakter di sekolahDalam kegiatan ini sekolah dapat mengupayakan terciptanya
keselarasan antara karakter yang dikembangkan di sekolah dengan pembiasaan di
rumah dan masyarakat. Sekolah dapat membuat angket berkenaan nilai yang
dikembangkan di sekolah, dengan responden keluarga dan lingkungan terdekat
anak/siswa. Dalam UUD tentang Sistem Pendidikan Nasional
BAB IV Pasal 7, dinyatakan bahwa “Orangtua berhak berperan serta dalam memilih
satuan pendidikan …”, dan pasal 9 dinyatakan “Masyarakat berkewajiban untuk
memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggara pendidikan”.[8]


Prinsip pengembangan yang telah disebutkan di atas
semuanya itu terkait dengan pengelolaan sekolah sebagaimana kemendiknas
mengatakan bahwa “pengelolaan ialah bagaimana pendidikan karakter direncanakan,
dilaksanakan, dan dikendalikan dalam aktivitas-aktivitas pendidikan secara
memadai. Pengelolaan tersebut meliputi nilai-nilai yang
perlu ditanamkan, kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik, dan tenaga
kependidikan dan komponen terkait lainnya. Dengan demikian manajemen sekolah
merupakan salah satu media efektif dalam membangun pendidikan karakter.[9]












[1] Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter
Perspektif Islam
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2013), hlm.40





[2] Kemendikbud, Grand
Design Revitalisasi Pendidikan di Sekolah Dasar Melalui Pendekatan Menyeluruh
(Jakarta:
direktorat pembinaan sekolah dasar, 2011), hlm23





[3] Dirjen
Dikdasmen Kemendiknas, Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah
Pertama (Jakarta: Dirjen Dikdasmen Kemendiknas, 2010), hlm.4-5





[4] M Mahbubi, Pendidikan Karakter Implementasi Aswaja
Sebagai Nilai Pendidikan Karakter,
(Yogyakarta: Pustaka Ilmu Yogyakarta,
2012). hlm. 45











[6] Doni Koesoema,
Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di  Zaman Global (Jakarta: PT Grasindo,
2007), hlm. 212





[7] Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2013), hlm.40





[8] Departemen
Pendidikan Nasional, Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan, Menciptakan
Masyarakat Peduli Pendidikan Anak
(Jakarta: Depdiknas, 2006), hlm. 4.





[9] Dirjen Dikdasmen Kemendiknas, Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah
Menengah Pertama (Jakarta: Dirjen Dikdasmen Kemendiknas, 2010), hlm.4


Post Top Ad