Teknik Penulisan Skripsi

teknologi

Evaluasi

Gambar tema oleh Storman. Diberdayakan oleh Blogger.

Archive

Travelling

Comments

Kontributor

Kamis, 24 Maret 2016

Dasar pembentukan karakter dalam Islam

Dasar Pembentukan Karakter dalam Islam - Manusia pada dasarnya memiliki dua potensi,
yakni baik dan buruk, di dalam Al-Qur’an surah Al-Syams dijelaskan dengan
istilah fujur (celaka/fasik) dan takwa (takut kepada Tuhan). Manusia
memiliki dua kemungkinan jalan, yaitu menjadi manusia yang beriman atau ingkar
terhadap Tuhannya. Keberuntungan berpihak pada orang yang senantiasa menyucikan
dirinya dan kerugian berpihak pada orang-orang yang mengotori dirinya, surah
Asy-Syams ayat 8:


Maka Allah
mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.


Berdasarkan ayat di atas, setiap manusia
memiliki potensi untuk menjadi hamba yang baik (positif) atau buruk (negatif),
menjalankan perintah Tuhan atau melanggar larangan-Nya, menjadi orang yang
beriman atau kafir, mukmin atau musyrik. Manusia adalah makhluk Tuhan yang
sempurna. Akan tetapi, ia bahkan bias menjadi hamba yang hina, bahkan lebih
hina dari binatang, seperti dalam surah At-Tin ayat 4-5 :


4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya .5. kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang
serendah-rendahnya (neraka).


Dalam
ayat yang lain dijelaskan tentang seorang yang hatinya telah mati, seperti
dalam surah Al-A’raf ayat 179 :


179. dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam)
kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan
mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar
(ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.


Dengan dua potensi di atas, manusia dapat
menentukan dirinya untuk menjadi baik atau buruk. Sifat baik manusia digerakkan
oleh hati yang baik pula, jiwa yang tenang, akal sehat, dan pribadi yang sehat.
Potensi yang buruk digerakkan oleh hati yang sakit, nafsu pemarah, lacur,
rakus, hewani, dan pikiran yang kotor.[1]

Sikap manusia yang dapat menghancurkan diri
sendiri seperti berdusta, munafik, sombong, materialistik, egois, dan sifat shaithoniyyah
yang lain yang memberikan energy negatif kepada setiap individu sehingga
melahirkan manusia-manusia yang berkarakter buruk. Sebaliknya, sikap jujur,
rendah hati, merasa cukup, dan sifat positif lainnya dapat melahirkan
manusia-manusia yang berkarakter baik. Ada beberapa aspek yang mempengaruhi
perkembangan karakter, bisa terjadi pada aspek jasmani, akal, maupun ruhani.
Aspek jasmani banyak dipengaruhi oleh alam fisik, aspek akal banyak dipengaruhi
oleh lingkungan budaya, aspek ruhani banyak dipengaruhi oleh kedua lingkungan
tersebut. Pengaruh itu menurut Al-Syaibani, dimulai sejak bayi berupa embrio
dan barulah berakhir setelah orang itu mati. Tingkat dan kadar pengaruh
tersebut berbeda antara seseorang dengan orang lain, sesuai dengan segi-segi
pertumbuhan masing-masing. Kadar pengaruh tersebut juga berbeda, sesuai
perbedaan umur dan perbedaan fase perkembangan. Faktor pembawaan lebih dominan
pengaruhnya saat masih bayi. Lingkungan alam dan budaya lebih dominan
pengaruhnya saat orang tumbuh dewasa.

 

baca juga



 
Manusia mempunyai banyak kecenderungan yang
disebabkan oleh banyaknya potensi yang dibawanya. Dalam garis besarnya,
kecenderungan itu dapat dibagi menjadi dua, yaitu kecenderungan menjadi orang
baik dan kecenderungan menjadi orang jahat. Oleh sebab itu, pendidikan karakter
harus dapat memfasilitasi dan mengembangkan nilai-nilai positif agar secara
alamiah-naturalistik dapat membangun dan membentuk seseorang menjadi
pribadi-pribadi yang unggul dan berakhlak mulia.[2]




[1] Agus Zaenul
Fitri, Pendidikan Karakter Berbasis Nilai dan Etika di Sekolah,
(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hlm. 34-35



[2] Agus Zaenul
Fitri, Pendidikan Karakter Berbasis Nilai, hlm. 36