Teknik Penulisan Skripsi

teknologi

Evaluasi

Gambar tema oleh Storman. Diberdayakan oleh Blogger.

Archive

Travelling

Comments

Kontributor

Rabu, 23 Maret 2016

bagaimana manusia yang berkarakter

Manusia berkarakter adalah manusia yang dalam perilaku dan segala hal yang berkaitan dengan
aktivitas hidupnya sarat dengan nilai-nilai kebaikan. Manusia semacam ini bukan
berarti tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi selalu berusaha memperbaiki
segala bentuk kesalahannya dan terus menerus memperbaiki diri dari waktu ke
waktu.

Kriteria semacam ini memang masih terlalu abstrak dan general. Maka, ketika diterjemahkan ke tataran aplikatif untuk mengetahui karakteristiknya menjadi sulit. Setiap orang akan memiliki kriteria dan pandangan sendiri-sendiri, sesuai dengan latar belakang keilmuan dan landasan berfikirnya. Hal ini wajar karena memang tidak ada kriteria tunggal yang disepakati oleh semua orang. Karakter sendiri pada

dasarnya harus disesuaikan dengan kondisi sosial, nilai moral, dan berbagai nilai-nilai
yang khas yang ada pada sebuah daerah. Namun demikian, substansi nilainya
bersifat universal dan berlaku sepanjang masa. Misalnya, berbuat baik dengan
tetangga adalah nilai yang sifatnya universal. Tetapi dalam tataran
implementatif, berbuat baik dengan tetangga itu teraplikasi secara berbeda
antara satu daerah dengan daerah yang lain.


Rumusan kriteria karakter
juga sangat beragam, tetapi secara substansi sebenarnya berada dalam muara yang
sama, yaitu nilai-nilai kebajikan. Abraham Maslow misalnya, memang tidak secara
eksplisit menggunakan istilah karakter, tetapi formulanya tentang manusia yang
berkualitas selaras dengan kriteria manusia yang berkarakter.[1]

Menurut Maslow, manusia
yang berkualitas adalah manusia yang mampu mengaktualisasikan diri, yaitu
manusia yang memiliki karakteristik sebagai berikut :

a)
Dapat menerima dirinya, orang lain, dan lingkungan
sekitar.

b)
Berpandangan realistik.

c)
Tidak bersikap pasrah (pasif).

d)
Berorientasi pada problem-problem eksternal.

e)
Mengapresiasi kebebasan dan kebutuhan akan
spesialisasi.

f)
Berkpribadian independent dan bebas dari pengaruh orang
lain.

g)
Mengapresiasi segala sesuatu secara progressif, tidak
terjebak pada pola-pola baku.

h)
Integratif dan akomodatif terhadap semua kalangan.

i)
Hubungan dengan orang lain sangat kuat dan mendalam,
bukan sekedar formalitas.

j)
Arah dan norma demokratisnya diliputi oleh sikap
toleran dan sensitivitasnya.

k)
Tidak mencampuradukkan antara sarana dan tujuan.

l)
Gemar mencipta, berkreasi, dan menemukan
penemuan-penemuan dalam skala besar.

m)
Menentang ketaatan dan kepatuhan buta terhadap budaya.

n)
Berjiwa riang secara filsufis, tidak bermusuhan.

Ciri manusia berkualitas menurut maslow titik
tekannya adalah aktualisasi diri.  Manusia berkarakter, dengan mengikuti rumusan
tersebut adalah manusia yang mampu mengaktualisasikan dirinya dalam menjalani
kehidupan ini.

Karl rogertz mengatakan sumber daya manusia
yang memiliki kepribadian seimbang yaitu sebagai berikut :

1.      Bersikap terbuka, menerima berbagai pengalaman,
dan berusaha memahami perasaan-perasaan internalnya.

2.      Hidup secara eksistensialistik, yakni
memiliki kepuasan batin bahwa setiap saat ia menginginkan pengalaman baru. Ini
berarti memiliki perasaan internal bahwa ia bergerak dan tumbuh.

3.      Dalam struktur keanggotannya, ia menemukan hal
yang dipercaya untuk mencapai tingkah laku yang paling banyak memberikan
kepuasan dalam tiap kondisi nyata. Ia melakukan apa yang dirasakannya benar
dalam konteks kekinian. Ia bepegang pada pembentukan totalitas dan komprehensif
pada dirinya untuk mengarahkan tingkah laku sesuai dengan pengalamannya.[2]

bagaimana manusia yang berkarakter kuncinya adalah dalam diri kita sendiri.

[1] Ngainun Naim. Character
Building
. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2012. Hlm. 60-61



[2] Ngainun Naim. Character
Building
, ( Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), Hlm. 62